Batching Plant adalah alat insdustri yang bergerak dengan tenaga utama sumber arus listrik. Baik menggunakan genset maupun dengan listrik dari PLN. Karena menggunakan listrik, maka sistem dan rangkaian kelistrikan yang ada juga tersusun di dalam box panel dan ruang control batching plant.
Sistem kelistrikan yang ada di batching plant meliputi input dan output nya. Biasanya akan ada dua panel induk, yang pertama berasal dari sumber arus dan yang kedua merupakan kelistrikan batching plant. Box panel biasanya akan berada di dalam ruang control.
Komponen – Komponen Kelistrikan Batching Plant
Ada banyak komponen yang nantinya dirangkai menjadi satu kesatuan. Kemudian di akan di rangkai di dalam box panel sesuai dengan jalur distribusi arusnya. Berikut beberapa komponen pokok kelistrikan yang ada di batching plant.
MCB
Merupakan komponen yang digunakan untuk mensuplai arus sesuai dengan kebutuhan. Misalnya saja untuk kebutuhan kontaktor pada kompresor dan motor listrik, tentu ukuran MCB yang digunakan akan berbeda. Listrik yang digunakan merupakan listrik 3 phase.
Kontaktor
Agar tombol controler bisa aman dari arus yang selalu berhubungan dan memisah dalam waktu yang singkat. Maka kontaktor ini akan berfungsi sebagai relay. Tombol controler jika di tekan akan mengalirkan arus yang ada di kontaktor.
Jika langsung dihubungan dengan tombol dan tanpa kontaktor, maka kabel akan terbakar. Ini terjadi karena arus yang diputus nyambung sangat singkat ini bisa menimbulkan percikan. Namun jika menggunakan tombol controler, semua dan kontaktor semua bisa diatasi dan berfungsi normal. Serta yang paling penting tidak membahayakan.
Relay
Masih sama dengan kontaktor namun yang berbeda hanya kapasitas untuk arus yang didistribusikan saja. Biasanya sangat cocok untuk butterflly dan selenoid.
Selenoid
Komponen keistrikan ini akan mengubah energi listrik menjadi energi mekanik dengan tekanan udara. Misalnya saja pada air shock dan katup butterfly
Breaker
Listrik yang berasal dari sumber arus utama akan masuk dulu ke dalam breaker. Disini sebagai sklar utama dalam batching plant. Biasanya kalau ada terjadi trouble dan butuh perbaikan, maka komponen ini akan dimatikan terlebih dahulu guna menghindari suplay arus listrik ke semua instalasi sistem kelistrikan yang ada. Sehingga lebih aman dan sesuai standar operasional prosedur pengoperasian batching plant.
Volt dan Ampere Meter
Sebagai penunjuk terkait voltage dan ampere yang sedang digunakan. Ini juga bisa sebagai penanda kalau misalnya terjadi kerusakan pada bidang kelistrikan maka bisa saja di cek pada bagian ini. Misalnya terlalu rendah ataupun terlalu tinggi.
Jika menggunakan mixer pada batching plant jenis wet, kondisi campuran dengan air yang ada di dalam mixer bisa dilihat dengan ampere meter. Jika kekurangan air maka ampere meter akan menunjukkan angka yang lebih tinggi.
Jika memang terlalu encer maka kondisi ampere meter akan terlalu rendah. Hal ini didasari pada konsumsi ampere di motor listrik yang menggerakkan poros mixer untuk mengaduk beton mix.
Timbangan Digital
Timbangan digital merupakan komponen batching plant yang sangat penting, mengingat semua penimbangan dan aktivitas yang ada dalam produksi beton mix memang didasari pada penimbangan komposisi material.
Tombol Controler
Berbagai tombol controler ini akan menggerakkan berbagai komponen yang ada di batching plant secara berkesinambungan. Pada bacthing plant manual, sangat dibutuhkan kejelian dan feeling untuk mengoperasikan berbagai komponen yang ada.
Tombol dan Rangkaian Emergency
Saat terjadi kendala yang darurat dan terpaksa mesin harus dimatikan, maka tombol ini bisa digunakan. Tombol ini memang digunakan kalau memang terjadi kendala dan harus dimatikan, kalau tidak ya tidak usah dimatikan dan komponen tertentu saja yang dimatikan.
Batching Plant Otomatis dengan Sistem PLC
PLC atau programable logic control merupakan sebuah serangkaian perangkat elektronik yang dapat diatur dengan program yang ada di komputer. Dengan PLC, control pada batching plant bisa sepenuhnya menggunakan komputer dan lebih efisien, bahkan bisa otomatis melakukan penimbangan, produksi dan perekapan data secara rapi.
Untuk yang beredar sekarang ini semua batching plant kebanyakan sudah menerapkan sistem komputerisasi pada batching plant nya. Tidak hanya efisiensi kerja saja, namun penimbangan yang dilakukan bisa lebih akurat, data lebih rapi dan terstruktur, serta eror kerja seperti kelebihan timbangan atau kekurangan timbangan bisa tercatat. Sehingga semua loss maupun surplusnya bisa kelihatan.
Komponen PLC merupakan komponen module dan berbagai relay yang nantinya dihubungkan dengan controler pada batching plant. Module merupakan komponen yag menerjemahkan perintah yang datang dari program komputer. Dari module diteruskan ke berbagai relay yang meneruskan arus sampai controler hingga menggerakkan komponen. Efisinsi waktu ada pada operator yang tidak sulit untuk mengontrol batching plant. Cukup memberikan perintah sesuai dengan job mix yang sudah diformulakan, maka sudah bisa berjalan dengan sendirinya.
Kerumitan menggunakan batching plant otomatis ini ada beberapa hal. Mulai dari kerumitan saat terjadi eror sistem maupun di bagian PLC, karena memang masih jarang mekanik yang bisa memperbaiki hal ini. Terlebih lagi pada perakitan atau trouble pada batching plant yang menggunakan banyak sensor.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar